Subscribe
Add to Technorati Favourites
Add to del.icio.us

ARTIKEL LAINNYA

Thank you for using rssforward.com! This service has been made possible by all our customers. In order to provide a sustainable, best of the breed RSS to Email experience, we've chosen to keep this as a paid subscription service. If you are satisfied with your free trial, please sign-up today. Subscriptions without a plan would soon be removed. Thank you!
[imagetag] foto ilustrasi


Manado,- Pasca penemuan dua mayat gadis tanpa kepala di Perairan Talise, Kecamatan Likupang Minut dan sekitaran perairan Bunaken, kecamatan Bunaken Kota Manado membuat masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) menduga keterkaitan adanya aliran sesat di Minut. Pasalnya, aliran sesat yang diungkap pada bulan Oktober tahun 2011 lalu itu, gadis bernama Linda Wullur yang membeber ritual ajaran sesat tersebut.

Linda adalah rekan Ican Maringka, siswi SMIP Airmadidi yang sebelumnya pada Bulan Oktober tahun lalu mengebohkan Minut karena berperilaku aneh seperti mengeluarkan suara erangan, gigi sempat mengeluarkan taring dan tubuhnya melayang seperti mau terbang.

Berdasarkan kesaksian Linda, keberadaan pengikut aliran sesat di Minut sulit dideteksi meski sampai sekarang memang tetap eksis. Linda pun sudah diperiksa pihak Polres Minut, tetapi tidak diketahui tindak lanjut dari pengikut aliran sesat tersebut, terutama tindakan penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan pihak Polres tersebut.

Sehingga tidak heran kekhawatiran dan keresahan pun muncul di tengah-tengah masyarakat Sulut, terutama anak atau keluarga mereka yang belum kunjung pulang sampai saat ini, seperti yang diungkapkan Hilda, warga Malalayang yang sudah kehilangan anak angkatnya Koko Adityas, siswa SMK 1 Manado sekitar 3 bulan lalu.

Diceritakan Hilda, Adityas meninggalkan rumah secara diam-diam dan sampai saat ini tak kunjung kembali.

"Setiap kali saya menelpon dia malahan hanya meledek dan bersikap acuh. Kami keluarga sudah sangat resah karena sampai saat ini tak ada tindakan dari aparat kepolisian," kata Hilda kepada CyberSulut, Selasa (24/01).

Menurutnya, pihak keluarga sudah melaporkan kasus kehilangan ini ke Poltabes Manado. Malahan saat ibu kandung Adityas menelpon ia hanya menjawab jika siapa pun tak akan bisa menemukannya karena dirinya sedang berada di sebuah tempat yang jauh dari pemukiman, tepatnya di hutan di kabupaten Minahasa Utara (Minut).

"Mama sudah jo telpon-telpon pa kita, karena dorang somo marah pa qta. Ato dorang bisa mo bunuh pa qt karena so banya dorang ada bunuh," ujar Hilda menuturkan perkataan Adityas saat ditelpon ibu kandungnya.

Jejak keberadaan Adityas di Minut pun semakin terang saat kerabat Hilda melihatnya sedang berada di Pasar Airmadidi. "Saat itu Adityas sedang mengenakkan baju hitam-hitam," tutur Hilda kemudian.

Dari keseharian, diketahui jika anak ini sering berkumpul dengan komunitasnya yang dinamakan Gabungan Anak Tuhan (GAT) di kawasan Megamal Manado, yang selalu dikunjunginya saat pulang sekolah.

"Dari informasi yang saya dapat, komunitas anak muda ini beranggotakan anak-anak dengan latar belakang masalah pribadi atau broken home. Karena dari penuturan Adityas kepada ibunya dia sering mengeluh soal keberadaan ibu dan ayahnya yang memang sudah bercerai," lanjut Hilda sembari menyatakan pihak kepolisian Polda Sulut harus mengungkap adanya aliran sesat dan bisa membawa pulang keluarga mereka yang nota bene generasi muda yang saat ini terpengaruh dengan aliran sasat tersebut.

Akan hal itu Tokoh Agama Sulut, Pdt Fanny Potabuga meminta pihak kepolisian untuk mengungkap keberadaan aliran sesat di Minut tersebut. Sebab 80 persen mengarah ke aliran sesat tersebut jika benar mayat dua gadis berasal dari Sulut, terutama di daerah Minut atau pun Kota Manado. "Kalau ada korban potong kepala, hanya ada dua. Pertama dilakukan oleh orang sinting atau punya gangguan jiwa dan kedua oleh kelompok aliran sesat. Sehingga polisi harus mengusut tuntas mengenai kedua mayat serta aliran sesat yang sudah diungkap masyarakat itu," katanya.

Dikatakan Pendeta ini, kalau dirinya Kapolda Sulut dengan segera akan membongkar aliran sesat yang disebut-sebut itu. "Aliran apa saja tidak apa-apa di Sulut. Kalau pun mereka mau beribadah, yah bisa Polisi jaga. Tetapi kalau bersembunyi-sembunyi ataupun jauh dar aktifitas masyarakat, ini yang harus diwaspadai dan harus segera bisa diungkap polisi karena sudah meresahkan," terangnya.


Sementara itu perkembangan terakhir atas kasus penemuan 2 mayat tanpa kepala, hingga kini Kapolres Minahasa Utara (Minut) AKBP Hari Sarwono saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil visum.

"Kami saat ini sedang menunggu hasil visum yang nantinya dipakai sebagai penunjang proses penyelidikan," ungkap Sarwono dari balik telepon genggam.

"Kami belum bisa memberikan memastikan bahwa kedua mayat tersebut merupakan korban dari kasus pembunuhan. Bisa saja keduanya merupakan korban tenggelam atau sebagainya. Karena itu kami telah berkordinasi dengan sejumlah pihak untuk mengetahui keadaan gelombang dari laut sebulan terakhir ini. Bisa saja kedua mayat tersebut hanyut dari daerah atau tempat lain", jelas Sarwono.

Saat ditanyai apakah kedua korban tersebut ada hubungannya dengan isu yang sempat beredar di Minut pada waktu yang lalu tentang aliran sesat ? "Sekali lagi, kami belum bisa memutuskan penyebab kematian kedua mayat yang ditemukan di laut tersebut. Karena masih menunggu hasil dari proses penyelidikan," tegas Sarwono.

Ditambahkan, bagi masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarganya, silakan menghubungi pihaknya, untuk membuktikan apakah kedua mayat tersebut bisa dikenali oleh masyarakat yang telah kehilangan.

Sumber http://www.cybersulut.com/5722425

Polisi harus cepat tuntaskan mayat gadis tanpa kepala, jangan sampa ada korban berikut...:berdukas:berdukas

dahyu 24 Jan, 2012

Admin 24 Jan, 2012


-
Source: http://situs-berita-terbaru.blogspot.com/2012/01/aliran-sesat-di-sulawesi-utara-sulut.html
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com

0 comments:

Post a Comment