Subscribe
Add to Technorati Favourites
Add to del.icio.us

ARTIKEL LAINNYA

Monday, January 30, 2012

Subsidi BBM Ibarat Kanker Ekonomi

Posted by dody rahman
http://ekonomi.inilah.com/read/detai...kanker-ekonomi

INILAH.COM, Jakarta - Rencana pemerintah menerapkan pembatasan pemakaian bahan bakar minyak (BBM) mulai April 2012 nampaknya tidak boleh ditunda lagi. Sudah lama pemerintah tak berkutik menghadapi problem subsidi BBM. Bagai kanker, subsidi ini terus-menerus menggerogoti anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dan makin lama makin kronis.

Pada 2010, pemerintah mengeluarkan subsidi BBM sebesar Rp90 triliun. Tahun lalu, jumlah subsidi itu naik menjadi Rp160 triliun. Angka itu melebihi asumsi APBN Perubahan yang cuma Rp129,7 triliun. .

Rencana lama untuk mengurangi subsidi BBM ini sudah diundur berkali-kali. Keragu-raguan menerapkan kebijakan ini akan membuat ekonomi semakin sakit. Beban subsidi yang membengkak akan makin mencekik leher perekonomian kita.

Biaya subsidi itu sebenarnya bisa ditekan andai pemerintah mau menaikkan harga. Sayangnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ragu mengambil kebijakan ini. Desember lalu bahkan dia sudah menyatakan pada 2012 tak akan ada kenaikan harga BBM.

Kini satu-satunya cara menyelamatkan anggaran negara adalah dengan membatasi penggunaan BBM bersubsidi. Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa sudah mengungkapkan pembatasan konsumsi BBM akan berlaku 1 April 2012.

Nanti, pemilik kendaraan roda empat berpelat hitam harus menggunakan BBM nonsubsidi (Pertamax) atau bahan lain, yakni gas. Kebijakan ini akan diterapkan di Pulau Jawa dan Bali. Namun wilayah Jakarta dan sekitarnya akan jadi prioritas pembatasan.

Diprediksi akan banyak pihak yang memprotes kebijakan ini. Tapi pemerintah tak boleh mundur lagi. Pemerintah sudah mengulur-ulur rencana pembatasan ini sejak 2008 dan sampai kini programnya belum jelas wujudnya.

Presiden harus segera menerbitkan aturan pelaksanaan yang terperinci, tegas, tapi mudah diterapkan di lapangan. Bila perlu, pembatasan ini memakai chip khusus yang bisa menutup peluang "main mata" antara penjual BBM dan pemilik kendaraan.

Cara lain yang tak boleh dilupakan adalah mendorong pemakaian bahan bakar gas (BBG). Jangan cuma gembar-gembor. Pemerintah mesti membikin langkah nyata seperti yang telah dilakukan Pakistan. Pakistan merupakan negara yang paling maju dalam pemakaian BBG. Mereka memulainya pada 1999. Kini di sana sudah ada 2,7 juta kendaraan yang memakai BBG.

Indonesia memulai program serupa lebih awal, yakni pada 1995. Tapi sampai sekarang, menurut data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, jumlah kendaraan pemakai gas tak lebih dari 5.000 unit. Ini karena pemerintah kurang serius menyediakan fasilitas pendukung. Pasokan gas seret dan jumlah pompa gas cuma ada 9 unit.

Selain itu, harga 'converter kit' mahal. Dua hal ini harus diatasi pemerintah. Kalau perlu, mereka harus berani memberikan subsidi harga alat konversi atau mendorong industri dalam negeri membangun pabrik converter sendiri.

Jika program pembatasan BBM dan konversi ke gas ini bisa diterapkan di Jawa-Bali saja, dampaknya akan besar. Soalnya, konsumsi BBM di Jawa-Bali saat ini mencapai 40-50 persen dari total konsumsi nasional. Karena itu, Presiden harus berhenti bersikap ragu-ragu. Ini memang pil pahit yang harus diambil untuk menyehatkan semuanya, perekonomian dan rakyat.

Rencana pemerintah ini juga mendapat reaksi pro-kontra. Reaksi negatif mencuat dari pengamat energi Marwan Batubara menilai rencana pemerintah untuk membatasi BBM terindikasi ditunggangi kepentingan asing. Menurut Marwan, kebijakan pembatasan itu dicurigai memang untuk mengakomodasi kepentingan asing.

Marwan menilai kepentingan asing itu terlihat jelas dari rencana pembatasan BBM yang mengharuskan pemakai kendaraan pribadi mengisi bensin Pertamax. Pertamina yang masih belum memiliki bahan kimia untuk meningkatkan oktan bensin menjadi salah satu titik krusial dari permainan BBM yang bisa dilakukan oleh pihak asing. [berbagai sumber]


========================

Vietnam saja sudah tidak disubsidi BBMnya.....tapi negaranya tetap kompetitif.
Subsidi itu enak bagi rakyat, tapi kalau mencabutnya dadakan bisa bikin sakit...kaya nyabut bulu ketiak dadakan bisa sakit juga....

wiki5000 31 Jan, 2012

Admin 31 Jan, 2012


-
Source: http://situs-berita-terbaru.blogspot.com/2012/01/subsidi-bbm-ibarat-kanker-ekonomi.html
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com

0 comments:

Post a Comment