Subscribe
Add to Technorati Favourites
Add to del.icio.us

ARTIKEL LAINNYA

Thursday, February 2, 2012

Dianggap Menghina Pesantren, Film 'Kebebasan Berekspresi' Disoal

Posted by dody rahman
Ilustrasi (m2net)
Bumiayu, Jawa Tengah - Naas benar nasib sejumlah santri di pondok pesantren Al Hikmah 2 Bumiayu, Jawa Tengah. Mencoba untuk berkreasi dengan membuat video terkait kebebasan berekspresi malah dianggap menghina pondok pesantren.

Dituturkan Pradna, pembina para santri tersebut, video yang digarap mereka memang mengungkap tentang kehidupan di pondok pesantren tersebut. Namun tujuannya bukan untuk menghina.

Hanya saja yang justru terjadi adalah, para santri yang ambil bagian dalam video tersebut kena getahnya. "Dipanggil pakai pengeras suara, oleh pengurus pondok karena dianggap menghina pondok karena video-video tersebut," tukasnya kepada detikINET, Jumat (27/1/2012).

Video yang dipermasalahkan tersebut sejatinya dibuat untuk ikut serta dalam lomba film pendek kebebasan ekspresi yang digagas ICT Watch. Dimana satu dari tiga video yang dikirim menyabet gelar juara ketiga.

Ketiga video itu sendiri dibikin di bawah naungan bendera M2Net, yaitu semacam organisasi jurnalis di pondok pesantren tersebut. "Nah, M2Net ini yang sebenarnya ditegur oleh pengurus pondok. Padahal M2Net ikut lomba juga untuk dana operasional organisasi sehari-hari," lanjut Pradna, yang merupakan orang luar pesantren tersebut.

Memang jika dilihat dari video-video yang ditampilkan, M2Net ingin sedikit berbagi tentang kehidupan yang terjadi di pondok pesantren.

Seperti dalam video berjudul 'Action Expression' yang meraih juara ketiga lomba ICT Watch itu. Ia coba mengangkat kisah nyata perjuangan santri jurnalis dalam pengadaan dan pengelolaan informasi di pondok pesantren Al Hikmah 2, Bumiayu.

Hanya saja perjuangan santri jurnalis ini menghadapi pasang-surut stigma negatif yang berkembang tentang bahaya internet. Namun perjuangan si santri jurnalis ini dapat mendobrak stigma tersebut dan malah membuktikan bahwa kebebasan berekspresi yang bertanggungjawab, akan menghasilkan prestasi.



Video lainnya adalah bertajuk 'Syeh Google vs Syeh Burhan'. Film ini berkisah soal kebosanan seorang santri dengan pengajaran gaya ortodoks yang diterapkan pada suatu masa.

Kemudian santri ini berkenalan dengan internet. Pada awalnya dia menikmati kemudahan informasi yang disajikan dengan beragam gaya, yang dihadirkan oleh internet. Hanya saja, beragam konten yang ada di internet justru membuatnya kehilangan arah.

Pesan yang ingin disampaikan film yang berdurasi 3,55 menit ini adalah kebebasan berekspresi tidak dikekang juga tidak dibebaskan begitu saja.



Sementara video terakhir berjudul 'Ekspresi Santri Journalism'. Film ini bercerita perjalanan seorang santri menuju pondok tempatnya menimba ilmu. Sekaligus menceritakan bahwa santri(wati) ini sedang melaksanakan tugasnya sebagai Santri Jurnalis dengan kamera tersembunyi. Karena memang di pondok tempatnya belajar melarang segala macam benda elektronik pribadi.

"Ketiga video itu yang dipermasalahkan," Pradna menandaskan.



http://www.detikinet.com/read/2012/0...991101mainnews

terus yang jadi masalah di mana SALAHNYA tu video :bingung

z4ckzjr 27 Jan, 2012

Mr. X 27 Jan, 2012


-
Source: http://ideguenews.blogspot.com/2012/01/dianggap-menghina-pesantren-film.html
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com

0 comments:

Post a Comment