Subscribe
Add to Technorati Favourites
Add to del.icio.us

ARTIKEL LAINNYA

Saturday, February 4, 2012

Libya Terancam Menuju Negara Gagal

Posted by dody rahman
Libya Terancam Menuju Negara Gagal

Quote:

Libya Terancam Menuju Negara Gagal

PERGOLAKAN ANTAR KELOMPOK KIAN TAK TERKENDALI

Sunday, 29 January 2012

Terguling dan tewasnya pemimpin Libya, Muammar Khadafi, bukan akhir dari kekerasan di negeri itu. Keberadaan berbagai kelompok milisi bersenjata menjadi ancaman baru bagi stabilitas dan keamanan Libya.

Proses transisi menuju demokrasi tampaknya tidak semudah yang diharapkan. Libya harus memasuki babak baru perang sipil setelah rezim Khadafi tumbang. Pertempuran antarmilisi semakin sering terjadi di negeri yang hancur akibat perang sebelumnya. Baku tembak di antara mereka terjadi untuk memperebutkan wilayah yang tak memiliki pemerintahan lokal kuat. Pemerintahan sementara Libya hanya kuat di daerah-daerah tertentu, terutama Tripoli dan Benghazi.

Kawasan lain yang sangat luas di negara itu berada di tangan para milisi bersenjata, baik milisi pendukung maupun penentang Khadafi. Pemerintah Libya seakan tak berdaya mengendalikan milisi-milisi bersenjata itu karena tentara resmi masih sangat lemah dan tidak terlatih. Hingga sekarang suara tembakan dan bom masih terdengar di tengah kesunyian malam di Tripoli.

Banyak warga Tripoli juga mengeluhkan meningkatnya pencurian,pembunuhan, perampokan, dan perkelahian di mana-mana. Jika kondisi ini terjadi di Tripoli, tentu keadaan lebih buruk terjadi di kawasan lain yang tidak memiliki pengamanan memadai. Situasi menggiriskan itu membuat banyak pihak khawatir, periode transisi ini menuju negara gagal, bukan negara demokratis seperti yang dijanjikan Barat saat menggulingkan Khadafi.

"Di sana tidak hanya terjadi bentrok antara milisi yang bersaing, tapi banyak laporan kejahatan di ibu kota dan saya pikir ini karena orangorang mulai resah dengan lambatnya perbaikan di negeri ini," tutur diplomat Barat kepada Reuters. Berbagai kelompok bersenjata, yang merasa sudah bekerja keras menggulingkan Khadafi, menolak menyerahkan senjata pada pemerintahan baru.

Mereka berdalih masih curiga dengan pemerintahan baru Libya. Padahal, persenjataan para milisi itu sangat beragam, mulai dari pistol, granat, mortir, senjata antipesawat dan antitank, hingga tanktank yang mereka rebut dari rezim Khadafi. Dengan persenjataan yang mereka miliki, milisi-milisi itu menjadi penguasa-penguasa baru di berbagai wilayah.Karena itu, pertempuran perebutan wilayah di antara milisi telah menjadi berita sehari-hari di negara itu.

Berbagai kelompok milisi itu juga memiliki sejumlah fasilitas penjara untuk menahan orang-orang yang dianggap sebagai lawan. Milisi-milisi itu mengklaim penjara itu untuk menahan para pendukung Khadafi. Namun muncul laporan bahwa berbagai fasilitas tahanan itu digunakan untuk menahan dan menyiksa warga sipil. Pekan ini pasukan dan milisi propemerintahan baru Libya kehilangan kontrol di Bani Walid, basis pendukung Khadafi.

Itu terjadi setelah warga Bani Walid bangkit melakukan pemberontakan bersenjata untuk melawan otoritas Dewan Transisi Nasional (NTC) yang memegang otoritas sementara di Libya. Aksi bersenjata itu memaksa pasukan NTC keluar dari Bani Walid. Tetua di Bani Walid menegaskan, mereka memilih pemerintahan lokal sendiri dan menolak intervensi apa pun dari otoritas di Tripoli. Pemberontakan di kota yang berada 200 km tenggara Tripoli ini jelas semakin melemahkan pemerintahan baru Libya.

Konflik baru juga terjadi antara Kota Assabia dan Gharyan, 50 mil selatan Tripoli. Warga di Assabia dan Gharyan merasa tidak aman untuk beraktivitas di kota mereka sendiri. Warga melaporkan terjadinya perkelahian bersenjata tajam di sebuah pasar di sepanjang jalan yang menghubungkan kedua desa. Milisi di kedua kota itu segera mengerahkan pasukannya, memblokir jalan utama, dan bertempur selama tiga hari. Dalam pertempuran itu dua kelompok milisi saling mengerahkan mortir, bom, dan roket GRAD yang memiliki panjang 9 kaki.

Selama pertempuran, dewan militer Gharyan menyatakan baku tembak terjadi untuk melawan pasukan pro-Khadafi yang masih bersembunyi di Assabia. "Assabia dan kami bersaudara, tapi karena keberadaan milisi pro-Khadafi kami memiliki masalah," tutur juru bicara dewan militer Gharyan, Ismail al-Ayeb. Di Assabia cerita lain terungkap. Menurut warga Assabia, beberapa penduduk yang tidak terlibat pertempuran telah diculik dan disiksa, satu tewas, akibat kekejaman milisi dari Gharyan.

"Kami bukan pendukung Khadafi. Gharyan hanya ingin membenarkan upayanya menyerang kami," kilah Ibrahim Mohammed, 23, yang membalut kepalanya dengan perban dan tampak luka memar akibat dipukuli dengan rantai besi di Gharyan. Sejauh ini NTC berusaha keras melakukan mediasi dan mengakhiri berbagai konflik antara milisi di Libya. Namun NTC mengaku tidak dapat mencegah pertempuran di antara milisi dan kesulitan mencegah peningkatan kekerasan serta kejahatan.

"Libya sedang melakukan transisi dari perang menuju damai dan berusaha mengatasi apa yang terjadi. Setelah melalui apa yang terjadi di Libya, negara mana pun akan memiliki masalah yang sama. Rakyat juga menyadari bahwa negara ini butuh waktu untuk penegakan hukum," ungkap diplomat Barat yang terlibat dalam gerakan untuk membentuk komite rekonsiliasi dan pencari fakta untuk mendokumentasikan kejahatan perang yang terjadi selama perang sipil di Libya.

Pasar Senjata Ilegal di Afrika Meluas

Perang sipil antara milisi yang saat ini terjadi hanya sebagian kecil dari masalah Libya setelah Khadafi. Penyebaran senjata yang sangat bebas dan tak terkendali menjadi kekhawatiran baru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Laporan terbaru PBB yang dirilis pekan ini menunjukkan, perang sipil di Libya membuat berbagai kelompok militan di kawasan Sahel, Afrika, seperti Boko Haram dan Al-Qaeda memiliki akses yang besar untuk mendapatkan persenjataan.

Boko Haram diduga terkait sayap Al-Qaeda di Afrika Utara. Boko Haram dituduh menewaskan lebih dari 500 orang pada tahun lalu dan lebih dari 250 orang tahun ini di Nigeria. Laporan PBB menjelaskan dampakperangsipilLibya terhadap negara-negara di kawasan Sahel, yakni Nigeria, Niger dan Chad. Dewan Keamanan PBB saat ini membahas laporan yang disiapkan oleh tim kaji cepat PBB yang menemui para pejabat dari negara-negara tersebut.

Diskusi Dewan Keamanan PBB menyoroti perbedaan tajam antara negara-negara Barat dan Rusia terkait intervensi NATO di Libya. "Pemerintah di berbagai negara itu mengindikasikan bahwa, meski ada upaya mengontrol perbatasan mereka, persenjataan dan amunisi dalam jumlah besar mengalir dari Libya yang diselundupkan ke kawasan Sahel," papar laporan PBB tersebut, "berbagai senjata itu termasuk granat berpelontar roket, senjata mesin anti pesawat, senapan otomatis, amunisi, granat, bahan peledak (Semtex), dan artileri antipesawat ringan yang dipasang di kendaraan."

Delegasi Inggris, Prancis dan Amerika Serikat (AS) di PBB juga berpendapat masalah perdagangan senjata ilegal di Afrika itu terjadi jauh sebelum perang sipil Libya. Namun Rusia menegaskan bahwa laporan PBB tentang persenjataan ilegal di Afrika merupakan konsekuensi nyata krisis Libya. Rusia merupakan pengecam utama intervensi NATO di Libya.

http://www.seputar-indonesia.com/edi...t/view/464451/

Seandainya AS, Prancis, Inggris, NATO, Qatar, NTC tidak turun tangan niscaya Libya tidak akan dapat menikmati demokrasi, HAM dan menjadi negara yang aman, tenteram, adil, maju, makmur, damai dan sejahtera seperti sekarang ini :shakehand2

a.d.min 30 Jan, 2012

Mr. X 30 Jan, 2012


-
Source: http://ideguenews.blogspot.com/2012/01/libya-terancam-menuju-negara-gagal.html
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com

0 comments:

Post a Comment